Pernah ngerasain kehilangan barang? Aku sering banget kehilangnya pulpen, penghapus, atau barang-barang sejenis yang harganya ga mahal (bisa dibeli pake uang jajan satu hari) dan gampang diganti kalo ilang. Nah, tepat tanggal 6 Juni 2012, aku baru banget ngerasain kehilangan barang yang nilainya ga sedikit, yaitu kehilangan dompet+isinya dan blackberry (bb). Buat aku ini adalah pertama kalinya kehilangan dompet dan handphone. Agak nyes aja gitu soalnya bb itu udah nemenin aku lebih dari satu tahun dan bb itu adalah hp terakhir yang dikasih bapakku. :'(
Seperti biasa setelah perkuliahan selesai dan sudah waktu zuhur aku dan temanku (Deta dan Hafsah) bergegas ke masjid kampus untuk melaksanakan salat. Setelah meletak sepatu kami di rak, kami jalan menuju tempat wudu. Aku berjalan sambil bbm-an dengan temanku. Di tempat wudu ternyata ada beberapa teman sekelasku yang lain. Ada Izzah, Nadia, dan Widya. Ada juga seorang perempuan yang tidak aku kenal sedang merapikan kerudungnya berdiri di depan cermin. Aku segera meletakan tasku di dekat tas temanku yang lain dan memasukan hpku ke tas tanpa membuka kancing-kancing tasku karena ada sedikit rongga yang cukup untuk hpku. Tempat tas-tas itu jaraknya kurang dari 5 m dari keran, hanya saja posisi kami membelakangi tas-tas itu.
Setelah selesai wudu mengambil mengambil tas dan masuk ke dalam masjid. Kami meletakan tas-tas kami di depan kami. Kamipun segera melaksanakan salat zuhur berjama'ah. Seperti biasa setelah selesai salat aku dan Deta selalu menggunakan sunblock. Bukan takut hitam tapi untuk menjaga dari sinar matahari yang kurang baik (gaya). Akupun mengambil tasku dan spontan aku berkata "Kok tasn gue kebuka yah?".
Aku sedikit kaget karena salah satu kancing tasku terbuka, seingatku aku tidak membukanya karena saat memasukan hp-pun aku lewat rongga kecil disampingnya. Aku duduk dan aku buka kancing-kancing tasku. Aku merogoh dan mencari hpku terlebih dahulu karena ingat sedang bbm-an dengan temanku dan pasti dia sudah membalas pesanku.
"Hp gue ga ada!", teriakku cukup membuat perhatian temen-temanku tertuju padaku.
"Cari dulu yang bener coba.", kata Deta
Aku lalu mengeluarkan seluruh isi tasku. Dan hp itu memang tidak ada di sana. Glek! Hpku hilang! Teman-teman berusaha menenangkan agar aku tidak panik.
"Dompet gue gak ada!!!", teriak Deta setelah memeriksa tasnya.
What? Aku sedikit tercengang saat Deta mengatakan dompetnya tidak ada. Akupun mencari dompetku di antara isi tasku yang kini berada di atas karpet. Daaaaaaan, aku tidak menemukannya.
"Dompet gue juga enggak ada.", sahutku.
Awalnya Deta bilang hp-nya ada tapi ternyata itu hanya hp androidnya saja, bbnya tidak ada. Deta langsung menangis. Akhirnya hafsah ikut memeriksa tasnya.
"Bb aku ada." (Sambil mengeluarkan bbnya)
"Dompet aku juga enggak ada!!!", teriak Hafsah.
Hafsahpun langsung menangis. Aku tidak menangis, aku masih bisa menguasai emosiku. Teman-teman yang lain berusaha menenangkan kami. Kami (aku, Deta, dan Hafsah)memeriksa tempat wudu mungkin saja tertinggal di sana (tapi impossible banget karena kami tidak mengeluarkan dompet sama sekali di sana), karena itu adalah satu- satunya tempat yang terakhir kami datangi (bahasanya oke banget ya :p). Hasilnya nihil! Dompet dan hp kami tidak ada. Kami kembali masuk ke masjid dan akupun menangis. Huaaaa :'( :'( :'(
Deta menelepon orangtuanya. Kami memasukan barang-barang kami ke tas dan pergi ke bank dekat kampus untuk memblokir ATM deta. Aku nanti saja memblokirnya, uang di ATM juga tidak banyak.
Sambil jalan Hafsah menelepon papanya. Dan meminta untuk dicek dompetnya ada di rumah atau tidak (Hafsah ini memang pelupa, dia lupa hari itu membawa dompet atau tidak). Kok kamu ga telepon orangtua kamu? Aku enggak bawa hp lain dan saat dipinjemin hp temanku aku mendadak lupa semua nomor telepon rumah dan mama. Hehe
Oh ya, Alhamdulillah dompet Hafsah ternyata ada di rumah, diapun berenti menangis. Aku meminjam hp Hafsah untuk menelepon mama dan memeberitahu hp dan dompetku hilang. Kali ini aku sudah ingat nomornya. :D
Mama enggak marah (yaiyalah ya, udah ilang enggak akan balik lagi percuma marah-marah), beliau cuma nanya ada uang untuk ongkos pulang dan menyuruhku pinjam ke temanku dulu jika tidak ada. Ongkos untuk pulang sudah ada di kantong, sudah aku pisahkan karena sebelumnya aku dan Deta berencana membeli wallsticker ke Pasar Prumpung.
Setelah Deta memblokir ATM-nya, kamipun pulang. Aku meminjam Rp 5.000 ke Hafsah untuk naik ojek agar cepat sampai rumah.
Rasanya kehilangan sesuatu yang udah lama ada nemenin kita dan pemberian dari orang yang spesial itu nyes banget dihati. Tapi, ada hikmah dari sebuah kejadian. Kalo aja aku langsung cek hp setelah wudu dan tau hp aku enggak ada saat itu pasti aku enggak jadi salat karena panik cari-cari hp dan kalau pun solat pasti sangat-sangat tidak khusyuk, tapi Allah ngebiarin aku lupa sama hp aku untuk sesaat dengan larut ngobrol sama temen dan ngebiarin aku salat dulu. Aku tahu Allah sayang aku, karena aku masih bisa ngerasain sedih, kehilangan, dan aku jadi bisa introspeksi diri.
Oh ya aku sama Deta adalah temen deket (sahabat), kita satu kelas dari semester satu dan selalu pulang kuliah bareng karena sama-sam naik bus TransJakarta. Berangkat kuliah juga kita selalu janjian di halte kampus dan saling tunggu-tungguan biar ke kelas enggak jalan sendirian. Kita juga sering cerita dan curhat-curhatan. Segitu sehatinya kah kita Det? Sampe hp dan dompet ilang pun barengan. :''')
foto: blackberrymag.blogspot.com, infohargaterbaru.blogspot.com


lain kali hati hati ya dik. bbnya kantongin aja klo bisa
BalasHapusPasti. Kegedean kalo dikantongin. :D
BalasHapusnyaelah...makanya pake celana jangan kekecilan
BalasHapus